Maret 31, 2014

Penopang Kehidupan

Malam itu aku kerja lembur. Aku ingat betul, jam sembilan malam aku baru bisa pulang meninggalkan kantor. Lesu sudah badan, tapi aku harus pulang. Perjalanan dari kantor menuju rumahku kira-kira membutuhkan waktu satu setengah jam menggunakan kereta commuter line. Setiba di stasiun tujuan (Rawa Buntu, Serpong) aku lalu mengendarai motor vario hitamku menuju rumah. Kira-kira waktu menunjukkan pukul 22.35 WIB saat aku tiba di stasiun Rawa Buntu. Cepat-cepat aku menyiapkan uang parkir motor sebesar enam ribu rupiah. Gerimis rintik-rintik semakin membuatku lekas tiba di rumah. Letih benar rasanya, ingin segera kugapai kasur empuk di kamar yang dingin itu.

Setelah bayar parkir, kuberanikan diri menjelajahi gelapnya malam kota BSD. Kulaju motorku dengan kencang, raga ini hanya ingin pulang. Di tengah perjalanan, sudah kubayangkan besok pagi aku harus kembali bangun pagi dan desak-desakan dengan para ibu-ibu dan mbak-mbak yang juga berangkat kerja. Belum terjadi saja sepertinya sudah kurasakan ribetnya, capeknya, gerahnya, semuanya. Padahal itu baru akan terjadi esok, malam ini bahkan belum kusudahi.

Sudah kulihat Eka Hospital di kiri jalan, aku tinggal belok kanan, sedikit lagi cluster rumahku kelihatan. Kulaju lagi motorku dengan ngebut, sepi sudah jalanan, tak ingin aku dicegat di tengah jalan. Namun tiba-tiba, dari 200 m di kiri jalan, aku melihat manusia duduk di pinggir jalan. Manusia itu duduk di jalan. Aku belum yakin, aku kurangi kecepatan motorku. Semakin dekat semakin aku bisa melihat bahwa dia tidak sedang duduk namun sedang mengayunkan badannya ke depan menggunakan kedua tangannya. Dia berjalan dengan menopang badannya dengan menggunakan kedua tangannya, ya, jadi terlihat seperti orang duduk dengan kedua tangan diletakkan di tanah. Setelah itu dia mengangkat tubuhnya dan diayunkan ke depan. Begitu selanjutnya. 

Ada yang menggerakkan aku untuk berhenti menghampiri. Mungkin jarak 3 meter di belakangnya, setelah aku siap lalu aku hampiri dan aku melihat kaki kirinya tidak utuh alias hanya sampai paha, sedangkan kaki kanannya juga dibalut oleh perban. Aku berasumsi kedua kakinya tidak lagi bisa berfungsi untuk berjalan. Makanya dia menggunakan tangannya untuk mengangkat tubuhnya. Tak kuat aku melihat apa yang ada di hadapanku, segera kutinggalkan sekedar apa yang aku punya lalu aku laju motorku dengan kencang diiringi dengan air mata yang berlinangan.

Sesunggukkan nian aku di tengah jalan. Ada yang hancurrr disana.  Air mata terus mengalir derasnya. Malu pada diri sendiri. Hina rasanya telah mengeluh hal-hal sepele. Hal yang tidak ada apa-apanya dibanding apa yang mereka lalui di hidupnya. Semoga kita kecipratan sedikit saja, mampu menjauh dari kelekatan terhadap materi, orang lain, jabatan, dan kawan2nya itu.. - Alissa Wahid. Words.

:(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar