Januari 09, 2013

Long Time No Design~


Mau shaaaare poster dan flyer hasil karya media presentasi tugas akhir UAS mata kuliah Wanita dan Hukum tahun ajaran 2012. Singkatnya penelitian itu tentang perlindungan hukum bagi wanita hamil yang terlibat dalam tindakan pidana di Indonesia, dengan perbandingan proses hukum di China. Karena di China ternyata terdapat aturan bahwa wanita hamil tidak dapat diproses pidana, sehingga harus menunggu kelahiran si anak terlebih dahulu. Dan dalam proses penelitian tersebut gue, Clara, dan Alan kebagian untuk mewawancarai Mbak Febiola, tersangka kasus narkotika yang tertangkap oleh di Guang-Zhou International Airport karena tertangkap basah menyelundupkan 544, 51 gram heroin dalam pembalut wanita yang ia kenakan. Cuplikan beritanya dapat dilihat disini. Kami mewawancarai Mbak Febiola di Rumah Tahanan Pondok Bambu, dalam proses menuju wawancara kami sempat dikira dari kalangan media, dia sempat menuduh kami dengan "Kalian siapa? Ini media ya, TvOne ya?"

Melihat Mbak Febi semakin curiga kami akhirnya menjelaskan bahwa kami mahasiswa FHUI yang hendak mewawancarai Mbak Febi demi tugas akhir kuliah. Mendengar penjelasan kami, Mbak Febi malah welcome sekali dan sempat menawarkan rokok dan minum agar kami lebih santai saat mengobrol dengan dia. Gak disangka-sangka, padahal sudah deg-degan banget bakal diusir dari rutan itu.

Secara substansi materi penelitian kami tentang diskriminasi, Mbak Febi mengaku tidak mengalami diskriminasi gender dalam proses pengadilan. Selebihnya, kami malah bertanya seputar kehidupannya di dalam tahanan. Salah satu kalimat yang paling gue inget "Ya, istilah 'anak baru - anak lama' disini gak penting yah, asal lo punya duit aja. Gak cuma masuk UI yang mahal, masuk rutan juga mahal" . Setelah melihat sekitar, ya gak heran sih Mbak Febi bilang kayak gitu, di dalam rutan khusus wanita itu, mbak-mbak napinya cakep-cakep cuy jangan salah. Bodinya beh. Bahkan bisa diitung yang mukanya keliatan kriminal, lainnya cakep-cakep dan kelihatan pinter-pinter malah. Heft. Tindakan kriminal mereka juga bukan yang kayak jambret, copet, gitu. Lebih ke kurir narkoba, penipuan, penggelapan, korupsi gitu. Dan surprisingly, disana kita sempet lihat Angelina Sondakh sama Afriani yg juga ditahan di rutan yang sama.

Sebenernya banyak kalau mau cerita lengkap tentang kunjungan gue ke rutan Pondok Bambu waktu itu. Tapi demi privasi narasumber jadi cuma bisa cerita segini. Semoga bisa kasih gambaran tentang kehidupan wanita di tahanan, pergerakan mafia narkoba internasional, dan kecantikan mbak-mbak napi di rutan pondok bambu, yah! Hehehe.

Flyer side A
Flyer side B
 Ceritanya flyer side A dan side B
bolak balik, lalu kertas dibagi tiga bagian
sistem buka tutup gitu

Poster



Ps: this blog is private documentation without subjective intention.


Tiga Kunjungan Pantai Dalam Sepuluh Hari

He-eh, selama 10 hari ini saya berasa jadi anak pantai, karena dalam sepuluh hari terakhir terhitung 29 Desember 2012 hingga 7 Januari 2013 ini saya tiga kali pergi ke pantai! Wo-ho! Seneng aja. Habis di Depok jauh dari pantai, sekalinya ke Jogja yaudindeh.

Kunjungan pantai pertama ituuuu, bersama keluarga baru, serombongan gitu deh setelah ziarah ke Goa Maria Tritis, kita cus makan siang di Pantai Baron dengan sejuta pilihan makanan seafood nyummmm. Setelah kenyang bego, baru cus main air di Pantai Indrayanti, karena pas menjelang tahun baru, jadi fix disana cendol parah alias rame bener. Jogjaaaaa semakin rame aja deh yaaah! Muah. Soalnya kata mas pacar Pantai Indrayanti sudah punya nama, jadi rame banget gitu deh serius kaya di Kuta deh ramenye.

Mendadak M-150, BISA! lol

Me and The Empal Gentong

Lanjut, kunjungan pantai yang kedua adalah dalam rangka menemani ciwi-ciwi temen kampus yg sedang liburan ke Jogja. Kita berangcuts berenam yang adalah saya sendiri, mas pacar, Rani, Genie, Salsa, dan adenya Salsa. Karena kita agak keliru memperkirakan keadaan, jadi kita terjebak macet tahun baru bok (yeiyelah 1 januari ke pantai itu salah banget sob). Jadi yaudin 3 kilo menuju Pantai Indrayanti udah stucked like forever, macet bego, sampe akhirnya kita muter balik dan memutuskan pindah pantai ke Pantai Siung yang gak kalah goks karena memutuskan untuk menyaksikan sunset dari atas tebing :3
With Genie dan Ranie

With Ranie, adiknya Salsa, Salsa, dan Genie
On the coastal cliffs, with my beloved :)

And theeen, tibalah pada kunjungan pantai ketiga. Kali ini rombongan peserta sama kayak kunjungan pantai yang kedua yaitu enam orang, namun tujuan pantai sama seperti tujuan pantai kedua di kunjungan pertama, yaitu Pantai Indrayanti. Waktu itu nemenin temen kampus yang main ke Jogja, kita berenam dengan misi konkret kesana deh hahahah full of fun!!!

With Wulan and Fara



Hahahah. Terus yang didapet dari ketiga kunjungan ini adalah:
1. Jangan mengunjungi Pantai Indrayanti pada tanggal 1 Januari di tahun kapanpun itu!!! Sabar tunggu tanggal 3 atau 4 lebih worth it. I tell you.
2. Kalau mau ngejar sunset, dari Jogja maksimal banget jam dua siang sih untuk wilayah pantai Wonosari.
3. Kalau ke Pantai Siung, harus banget naik tebing di bagian kiri pantai. Tapi hati2 licin tanah basah! Dan kalau sudah lihat sunset langsung turun aja nanti keburu gelap, karena medan naik turun tebingnya agak licin dan berbahaya.
4. Kalau mau foto bareng temen2 jangan pakai tripod ditarok di pantai, sekalinya kena ombak ABIS deh tuh kamere jatoh ke air. Hedeh maaaas maaaas. Mending minta tolong orang fotoin kan ya bisa... (tragis banget lihat gerombolan mas mbak yg kameranya jatoh ke air, karena tripodnya kena ombak) RIP your dslr.
5. Kalau pas lagi jalan di karang pantai yg licin, jangan sekali-kali melepas genggaman tangan pacar anda. I tell you. Jangan. Jangan aja.

Khhhhhh.

HAPPY HOLIDAY! :)

Januari 08, 2013

Baginda Raja

Bertahun-tahun kau berhasil buatku kagum akan keajaiban manusia super sepertimu, Baginda. Bagiku kau lah pahlawan itu. Sejak kecil, kau selalu berhasil membuatku terkesima dengan kehebatanmu, kerendah-hatianmu, kepedulianmu, dan satu yang sangat kuat ada dalam jiwamu, tanggung jawabmu itu. 

Kini dalam ranjak dewasaku, ku mengerti bahwa ku tak boleh untuk selalu berharapmu ada di setiap langkahku. Harapku kau ada lebih lama disini, Baginda. Bersamaku kan ku hapus segala keluhmu itu. Stay here........with me. 

Look at me,
don't leave.

I know what I say, but this what's on my mind.
Kembali. Baginda Raja. Jangan. 

Bukan itu.

Ya Bapa...

Januari 06, 2013

Another words of missing someone you love the most (read: confusion of titling)

We lost some, we get some.

Dia sumber kasih sayangku, sahabatku, penyemangatku, muara keberanianku, pembasmi kuman keminderanku, penasihatku, teladanku, idolaku, malaikatku, Ibuku. Kini bersemayam di tempat terindah keinginannya. Tak lagi dapat kugapai lembut belainya.

Lalu kini kusadar Kau kirimkan dia, penjagaku, pemberi sinaran, dia, teman sejatiku, entahlah, hanya dia yang bisa membuat kata rindu jadi bermakna. Benarkah ini adanya? Demikiankah pintamu? Apabila iya, pantaskanlah aku untuk mengucap satu panjatan terimakasih yang terdalam. Apakah kau mencuri dengar doaku, saat itu Ibu? Saat kau masih disisiku. Karena memang hanya dia yang ada disitu, sejak saat itu hingga kini, dia ada disampingku.

Dia mengerjakan tugasnya dengan baik dan rapi, Bu. Anakmu tidak lagi bersedih. Aku percaya kau telah bermain peran dalam tiap ucap doaku untuknya. Oh Ibu, sematkanlah dia dalam kasihmu. Aku mengasihinya, jagalah ia. Doakanlah ia seperti anakmu yang lain. Karena ia telah menjadikanku utuh. Aku tak memesan suatu janji pasti di esok nantinya, tak lupa siapa diriku, Bu. Akan kuserahkan pada yang lebih Maha Kuasa. Kalaupun ia bukanlah dia, demi kebaikan, tulus akan kukembalikan. Sungguh tak ku harap semua itu di atas segalanya, cukuplah ku berterimakasih untuk hari ini, selama ini, telah kau hadirkan ia, penjagaku, kekasihku.

Memang Ibu selalu tau.
Rindu, Bu.