Sebut seorang ayah yang kedatangan tamu, seorang gadis puteri. Anak gadis tersebut datang dengan penuh keceriaan, awalnya, ayah pun senang dengan kehadiran anak tersebut, ayah terhibur. Di samping itu, ayah tersebut memiliki.... sebut saja tiga anak. Anak pertama, kedua, dan ketiga. Anak pertama dan kedua sama-sama sekolah di kota yang sama, namun beda ilmu. Nah yang ketiga, karena suatu keadaan, ia harus bersekolah di luar kota. Jarak memisahkan anak beranak tersebut.
Gadis tamu yang awalnya datang dengan penuh sukacita mulai berani mengisahkan pula tentang duka. Ayahpun iba. Keseharian ayah kini tidak hanya diwarnai dengan kisah anak pertama, kedua, dan ketiga. Namun si gadis ini pula. Anak sulung pun berteman dengan si gadis, anak kedua, emm mungkin hanya sekedar tau sehingga tidak seakrab anak pertama dengan si gadis, nah bagaimana anak ketiga? Hanya anak ketiga yang tau, pada saat itu.
Kini, ayah sudah mulai membaca celoteh anak ketiga, yang padahal, sudah mulai ayah sadari sejak lama, anggaplaaah enam bulan yang lalu. Kalau dipikir-pikir sama seperti saat anak ketiga mulai mengendus angin curiga. Namun keduanya sama-sama pandai bermain muka.
Yah namanya juga bapak - anak, nurun gituh..
Tapi ketiga anak itu hanyalah apa, tidak mengerti apa-apa. Yang tau pastinya hanyalah si ayah dan si gadis. Memang, ayah selalu bilang pada si bungsu. "We're just friends, sweetheart, we have a same intention as friends" Dan kalimat itu, lumayan menenangkan anak ketiga untuk yaah setidaknya tiga sampai lima detik pertama, selanjutnya, imajinasi anak ketiga yang serasa mencuat dari sudut ke sudut kamar tidurnya, namun kembali lagi, kasih sayang ayah selama ini lah yang akhirnya dapat menghantarnya tidur.
Yah, namanya juga anak bungsu..
Anak bungsu takut! Ternyata si gadis memiliki six sense! AAAA! Mana ayah roman-romannya ingin mengangkat pula dia sebagai anak? HUA! Atau mungkin ayah sudah menganggap si gadis sebagai anaknya, anak sulung mungkin tau dan oke oke saja. Anak kedua mungkin juga sudah tau, dan biasa saja. Nah, bagaimana dengan anak ketiga? Jelas tau, tapi cemburu.
Yah, namanya juga anak bungsu..
Jadi sekarang ini, si ayah ceritanya lagi bertapa. Antara memikirkan si gadis yang kini sedang sakit dan membutuhkan kehadiran si ayah, dan menanggapi gerutu-gerutu tidak terlalu penting si anak ketiga. Sementara anak ketiga...
sibuk belajar dong lah.... B)
Haha, masih banyak cerita lagi, ada juga tentang IBU TIRI! lololol ibu tiri :$ Tapi belum ada yang bisa diceritakan karena penulis masih mencerna alur ceritanya, yeah. Menyenangkan sekali ya memperhatikan lingkungan itu. Asal gak lupa sama kehidupan sendiri aja sih. Well sekian kisah pada hari ini, kisah Ibu Tiri nyusul deh, kapan-kapan.
Salam, anak ketiga.
Gadis tamu yang awalnya datang dengan penuh sukacita mulai berani mengisahkan pula tentang duka. Ayahpun iba. Keseharian ayah kini tidak hanya diwarnai dengan kisah anak pertama, kedua, dan ketiga. Namun si gadis ini pula. Anak sulung pun berteman dengan si gadis, anak kedua, emm mungkin hanya sekedar tau sehingga tidak seakrab anak pertama dengan si gadis, nah bagaimana anak ketiga? Hanya anak ketiga yang tau, pada saat itu.
Kini, ayah sudah mulai membaca celoteh anak ketiga, yang padahal, sudah mulai ayah sadari sejak lama, anggaplaaah enam bulan yang lalu. Kalau dipikir-pikir sama seperti saat anak ketiga mulai mengendus angin curiga. Namun keduanya sama-sama pandai bermain muka.
Yah namanya juga bapak - anak, nurun gituh..
Tapi ketiga anak itu hanyalah apa, tidak mengerti apa-apa. Yang tau pastinya hanyalah si ayah dan si gadis. Memang, ayah selalu bilang pada si bungsu. "We're just friends, sweetheart, we have a same intention as friends" Dan kalimat itu, lumayan menenangkan anak ketiga untuk yaah setidaknya tiga sampai lima detik pertama, selanjutnya, imajinasi anak ketiga yang serasa mencuat dari sudut ke sudut kamar tidurnya, namun kembali lagi, kasih sayang ayah selama ini lah yang akhirnya dapat menghantarnya tidur.
Yah, namanya juga anak bungsu..
Anak bungsu takut! Ternyata si gadis memiliki six sense! AAAA! Mana ayah roman-romannya ingin mengangkat pula dia sebagai anak? HUA! Atau mungkin ayah sudah menganggap si gadis sebagai anaknya, anak sulung mungkin tau dan oke oke saja. Anak kedua mungkin juga sudah tau, dan biasa saja. Nah, bagaimana dengan anak ketiga? Jelas tau, tapi cemburu.
Yah, namanya juga anak bungsu..
Jadi sekarang ini, si ayah ceritanya lagi bertapa. Antara memikirkan si gadis yang kini sedang sakit dan membutuhkan kehadiran si ayah, dan menanggapi gerutu-gerutu tidak terlalu penting si anak ketiga. Sementara anak ketiga...
sibuk belajar dong lah.... B)
Haha, masih banyak cerita lagi, ada juga tentang IBU TIRI! lololol ibu tiri :$ Tapi belum ada yang bisa diceritakan karena penulis masih mencerna alur ceritanya, yeah. Menyenangkan sekali ya memperhatikan lingkungan itu. Asal gak lupa sama kehidupan sendiri aja sih. Well sekian kisah pada hari ini, kisah Ibu Tiri nyusul deh, kapan-kapan.
Salam, anak ketiga.















