Agustus 22, 2011

I notice everything, I just don't say anything

Sebut seorang ayah yang kedatangan tamu, seorang gadis puteri. Anak gadis tersebut datang dengan penuh keceriaan, awalnya, ayah pun senang dengan kehadiran anak tersebut, ayah terhibur. Di samping itu, ayah tersebut memiliki.... sebut saja tiga anak. Anak pertama, kedua, dan ketiga. Anak pertama dan kedua sama-sama sekolah di kota yang sama, namun beda ilmu. Nah yang ketiga, karena suatu keadaan, ia harus bersekolah di luar kota. Jarak memisahkan anak beranak tersebut.

Gadis tamu yang awalnya datang dengan penuh sukacita mulai berani mengisahkan pula tentang duka. Ayahpun iba. Keseharian ayah kini tidak hanya diwarnai dengan kisah anak pertama, kedua, dan ketiga. Namun si gadis ini pula. Anak sulung pun berteman dengan si gadis, anak kedua, emm mungkin hanya sekedar tau sehingga tidak seakrab anak pertama dengan si gadis, nah bagaimana anak ketiga? Hanya anak ketiga yang tau, pada saat itu.

Kini, ayah sudah mulai membaca celoteh anak ketiga, yang padahal, sudah mulai ayah sadari sejak lama, anggaplaaah enam bulan yang lalu. Kalau dipikir-pikir sama seperti saat anak ketiga mulai mengendus angin curiga. Namun keduanya sama-sama pandai bermain muka.

Yah namanya juga bapak - anak, nurun gituh..

Tapi ketiga anak itu hanyalah apa, tidak mengerti apa-apa. Yang tau pastinya hanyalah si ayah dan si gadis. Memang, ayah selalu bilang pada si bungsu. "We're just friends, sweetheart, we have a same intention as friends" Dan kalimat itu, lumayan menenangkan anak ketiga untuk yaah setidaknya tiga sampai lima detik pertama, selanjutnya, imajinasi anak ketiga yang serasa mencuat dari sudut ke sudut kamar tidurnya, namun kembali lagi, kasih sayang ayah selama ini lah yang akhirnya dapat menghantarnya tidur.

Yah, namanya juga anak bungsu..

Anak bungsu takut! Ternyata si gadis memiliki six sense! AAAA! Mana ayah roman-romannya ingin mengangkat pula dia sebagai anak? HUA! Atau mungkin ayah sudah menganggap si gadis sebagai anaknya, anak sulung mungkin tau dan oke oke saja. Anak kedua mungkin juga sudah tau, dan biasa saja. Nah, bagaimana dengan anak ketiga? Jelas tau, tapi cemburu.

Yah, namanya juga anak bungsu..

Jadi sekarang ini, si ayah ceritanya lagi bertapa. Antara memikirkan si gadis yang kini sedang sakit dan membutuhkan kehadiran si ayah, dan menanggapi gerutu-gerutu tidak terlalu penting si anak ketiga. Sementara anak ketiga...

sibuk belajar dong lah.... B)

Haha, masih banyak cerita lagi, ada juga tentang IBU TIRI! lololol ibu tiri :$ Tapi belum ada yang bisa diceritakan karena penulis masih mencerna alur ceritanya, yeah. Menyenangkan sekali ya memperhatikan lingkungan itu. Asal gak lupa sama kehidupan sendiri aja sih. Well sekian kisah pada hari ini, kisah Ibu Tiri nyusul deh, kapan-kapan.

Salam, anak ketiga.

A little reunion with 'I'

Reuni dadakan, dikemas secara sederhana tujuannya juga untuk mendiskusikan reuni yang lebih besar selanjutnya. Haha full of guyon ra nggenah, tapi merupakan pelepas rindu yang amat bermutu. Here the photos:









Ada Benno Vito Aya Itok Manda Hanum and me haha
Wah jadi rindu masa SMP





wakakakakak with Amanda Sari tuh jaman enem taun kepungkur haha kalo kata mbah kidul gitu. Hedeeeh parah juga ya, tp gak papa deh. Hmmm. Anyway kenapa gayanya harus kayak begetoooooo sihhhhhhh?! *keselsamadirisendiri*


LOL

Cimu

"Typing huge paragraph expressing your true feelings than erasing it"


Haha just did it a moment ago
not erasing it thou, just saving it as a draft



Hei dear, just want to say thanks for everthing you've given to me. Thank you for always being there when I needed you. So funny remembering again how we could be together again as one. So happy listening again about our stupid stories when we're young and dumb.


I love you :)

Agustus 14, 2011

Carmelito

Once upon a time in Peacock Coffee with the most handsome bestfriend of mine in the world! Tee hee. Keep kriting mabro! Distance never beats our craziness. Hm I'm not crazy, you are B-)

Tep bar ya pin wa!
Lets go kita caw



MAKAN!



hahahahaha





Lootja

What you need to do is to take a peek the unseen path

"Dear life, when I said can my day get any worse, it was a rhetorical question not a challange"




Tsk. I've been feeling so effin ergh these lately days. Those family complexity, GPA's jump down, ego management then many more problems are completely driving me nuts. I unlike being contamined, because I know I could not have been poisoned by their theories. Well, what my sister say was totally right "Kamu harus ambil sikap, dek" Fuh, somehow It's just too hard for me. Bold this, that hard. Choosing what you have to choose and what you should tolerate to others is far too complex for me to decide. Omg I know that I'm not a little girl anymore, I should be more individualist just like my seniors taught me. How they convince me that you'll be drowning deep down there if you're not brave to choose being that individualist which I translate that as a crazy thing called OBSESSION! *long-exhale*




Okay, back to the point. I still find it hard to spell what inside my mind. HAH! I know they're so curious about what they want to hear, but guys, please I really don't mean to hide a thing. I just don't know how, I'm too afraid, too shy to admit that I'm that mixed-up so far. But wait a second, though I'm not telling a thing, but at least I'm keeping the force, I try to swim under water just like duck, their feet are paddling but it's just unseen. Okay, maybe that's the nearest parable.




I'll strive more henceforward. I'll learn more for you, for us and for everyone who love me. God, bless me..