Juli 15, 2014

Mendengarkan Manusia



Mendengarkan manusia berkomentar tentang hidup kita itu anggaplah seperti bermain hujan yang mengguyur di sore hari. Semuanya ada di tanganmu, untuk bermain basah-basahan di jalanan, atau hanya menikmati di dalam rumah sambil minum chamomile tea hangat. Kamu bisa memutuskan untuk keluar rumah kedinginan atau di dalam rumah saja mencari kehangatan. Setelah kamu pergi ke luar rumah pun, masih ada pilihan untuk menjadi basah atau tetap kering dengan menggunakan payung.

Di rumahmu, mungkin tidak setiap hari diguyur hujan. Namun, di suatu tempat sana, pasti ada hujan yang mengguyur kota orang lain. Kadang hujan membawa kesejukan setelahnya, namun kadang bila berlebihan akan menggenang tak berguna. Terlalu banyak, tidak dapat mengalir. Menggenang dan merugikan.

Hujan pasti reda, dan juga pasti akan datang lagi.
Kenali mendungmu, karena pada saat itu hujan akan turun sebentar lagi.

#tentangmanusia
#tentanghidup
#penuhkomentar

Grow a Day Older

"... When I was in complete surrender of who I am, the helpless idiot venturing her endless lessons of love and life. When I was thankful that he would grow a day older and see what a mess I could be. And I can feel I am arriving in that moment again, right now, as I am cuddled like his Teddy, and still not knowing what to do or what to decide."

See the sunrise
Know it's time for us to pack up all the past 
And find what truly lasts 
If everything has been written down, so why worry, we say 
It's you and me with a little left of sanity 
If life is ever changing, so why worry, we say 
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye 

And how will it be? Sometimes we just can't see 
A neighbor, a lover, a joker 
Or a friend you can count on forever?
How tragic, how happy, how sorry? 
The sun's still up and life remains a mystery 
So, would it be nice to sit back in silence? 
Despite all the wisdom and the fantasies 
Having you close to my heart as I say a little grace 
I'm thankful for this moment causeI know that you
Grow a day older and see how this sentimental fool can be 

When she tires to write a birthday song 
When she thinks so hard to make your day 
When she's getting lost in all her thoughts 
When she waits a whole day to say... 
"I'm thankful for this moment cause I know that I grow a day older and see how this sentimental fool can be"

When he ache his arms to hold me tight 
When he picks up lines to make me laugh 
Whan he's getting lost in all his calls 
When we can't wait to say : "I love you'."

If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity

-Recto Verso, Dewi Lestari-

Maret 31, 2014

Penopang Kehidupan

Malam itu aku kerja lembur. Aku ingat betul, jam sembilan malam aku baru bisa pulang meninggalkan kantor. Lesu sudah badan, tapi aku harus pulang. Perjalanan dari kantor menuju rumahku kira-kira membutuhkan waktu satu setengah jam menggunakan kereta commuter line. Setiba di stasiun tujuan (Rawa Buntu, Serpong) aku lalu mengendarai motor vario hitamku menuju rumah. Kira-kira waktu menunjukkan pukul 22.35 WIB saat aku tiba di stasiun Rawa Buntu. Cepat-cepat aku menyiapkan uang parkir motor sebesar enam ribu rupiah. Gerimis rintik-rintik semakin membuatku lekas tiba di rumah. Letih benar rasanya, ingin segera kugapai kasur empuk di kamar yang dingin itu.

Setelah bayar parkir, kuberanikan diri menjelajahi gelapnya malam kota BSD. Kulaju motorku dengan kencang, raga ini hanya ingin pulang. Di tengah perjalanan, sudah kubayangkan besok pagi aku harus kembali bangun pagi dan desak-desakan dengan para ibu-ibu dan mbak-mbak yang juga berangkat kerja. Belum terjadi saja sepertinya sudah kurasakan ribetnya, capeknya, gerahnya, semuanya. Padahal itu baru akan terjadi esok, malam ini bahkan belum kusudahi.

Sudah kulihat Eka Hospital di kiri jalan, aku tinggal belok kanan, sedikit lagi cluster rumahku kelihatan. Kulaju lagi motorku dengan ngebut, sepi sudah jalanan, tak ingin aku dicegat di tengah jalan. Namun tiba-tiba, dari 200 m di kiri jalan, aku melihat manusia duduk di pinggir jalan. Manusia itu duduk di jalan. Aku belum yakin, aku kurangi kecepatan motorku. Semakin dekat semakin aku bisa melihat bahwa dia tidak sedang duduk namun sedang mengayunkan badannya ke depan menggunakan kedua tangannya. Dia berjalan dengan menopang badannya dengan menggunakan kedua tangannya, ya, jadi terlihat seperti orang duduk dengan kedua tangan diletakkan di tanah. Setelah itu dia mengangkat tubuhnya dan diayunkan ke depan. Begitu selanjutnya. 

Ada yang menggerakkan aku untuk berhenti menghampiri. Mungkin jarak 3 meter di belakangnya, setelah aku siap lalu aku hampiri dan aku melihat kaki kirinya tidak utuh alias hanya sampai paha, sedangkan kaki kanannya juga dibalut oleh perban. Aku berasumsi kedua kakinya tidak lagi bisa berfungsi untuk berjalan. Makanya dia menggunakan tangannya untuk mengangkat tubuhnya. Tak kuat aku melihat apa yang ada di hadapanku, segera kutinggalkan sekedar apa yang aku punya lalu aku laju motorku dengan kencang diiringi dengan air mata yang berlinangan.

Sesunggukkan nian aku di tengah jalan. Ada yang hancurrr disana.  Air mata terus mengalir derasnya. Malu pada diri sendiri. Hina rasanya telah mengeluh hal-hal sepele. Hal yang tidak ada apa-apanya dibanding apa yang mereka lalui di hidupnya. Semoga kita kecipratan sedikit saja, mampu menjauh dari kelekatan terhadap materi, orang lain, jabatan, dan kawan2nya itu.. - Alissa Wahid. Words.

:(

Maret 06, 2014

Lempeng

Seorang ibu dari teman baikku, panggil saja Sari, mengatakan padaku bahwa sebagai anak perempuan kita harus sadar bahwa kodrat kita adalah sebagai wanita yang kelak akan menjadi istri dari seorang suami. Dan tanggung jawab besar sebagai istri adalah untuk mendampingi suami.

Seorang ibu dari teman baikku (lagi), sebut saja Aninda, mengatakan padaku bahwa sebagai anak perempuan nantinya pasti akan ikut bersama suami. Dalam artian, dimana suami bekerja disana istri akan bersamanya. Istri mengikuti, mendampingi.

Terdengar agak mirip, tapi aku memaknainya dengan berbeda.

Ibunya Sari berbicara dengan sangat ringan, tentang cara menanamkan pemahaman kepada Sari bahwa memang "hidup sesuai dengan kodrat" sudah begitu adanya. Hidup tak punya banyak pilihan, tapi tetap di tengah pilihan yang tidak terlalu banyak itu, kamu harus memilih. Apabila kamu telah memilih menjadi istri, maka segala konsekuensi di balik itu harus kamu terima.

"Ya, istri mendampingi suami, lupakan cita-citamu. Lupakan pilihan lain untuk menggapai karir itu. Tugasmu adalah mendukung dan melayani suami. Menyiapkan sarapan di pagi hari, menyiapkan pakaian, peralatan sehari-hari, bersedia menanti suami pulang, menemani makan malam, bertukar pikiran, memberi masukkan, menemani istirahat, segalanya yang membuat suami merasa menjalani hidupnya bersamamu membuatnya semakin mudah."

Pada saat itu aku mendengarkan dengan setengah menganga.

Betapa berbaktinya wanita ini bisa melakukan itu semua, meninggalkan segala cita-citanya, demi suami tercinta. Demi keluarga. Sempat aku berpikir ini adalah dedikasi atau hanyalah justifikasi dari keengganan (nearly kemalasan) seorang wanita untuk menggapai cita-cita?

Aku belum mau menyimpulkan, jadi aku belum bisa menjawab. Aku memilih untuk terus mendengarkan saja Ibunya Sari bercerita tentang wanita.

Sebenarnya aku mendengarkan sambil bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang Ibu, istri dari pejabat kaya hanya tinggal di rumah, tidak memiliki pekerjaan formal, tidak ada kesibukan yang rutin, berpegangan pada kesetiaan hatinya, dan kepercayaan pada suaminya, bertahan sekian puluh tahun mendampingi suami, membesarkan anak, dan masih tetap damai.

Aku masih bertanya-tanya. Aku masih belum menemukan makna dedikasi sepenuh jiwa raga semacam Ibunya Sari ini. Karena contohnya almarhum Ibuku, meskipun melepaskan pekerjaan formalnya demi mengurus keluarga (sesuai permintaan Ayahku), namun beliiau tetap berbisnis ini itu, memiliki kesibukan yang rutin sehingga menurutku hidupnya cukup dinamis. Dan menurutku, itu yang ideal. Tidak terlalu sibuk, ada waktu untuk keluarga, namun tetap bisa earn money for herself. Yah, aku tahu pendapatku sekarang dan mungkin lima tahun lagi akan berbeda. Tapi untuk saat ini, aku masih berpendapat demikian.

Sehingga melihat dan menilai pengakuan dari Ibunya Sari ini cukup membuatku bingung sekaligus tidak heran mengapa Sari, teman baikku itu, tidak "ambi" (re: ambisius) dengan masa depannya. She is the truly definition of "lempeng". The lempeng-est girl on earth, you can say. Dan sekarang, sudah kutemukan jawabannya. Karena Ibunya, Ibunya Sari ini, adalah lempeng. Ibunya tidak menanamkan banyak doktrin mengenai kerja keras menggapai cita pada Sari. Hanyalah ilmu dasar, seperti ilmu kebersihan, perawatan, memasak, dan kewanitaan lainnya.

Aku tertegun, sih. Dibanding dengan Ibuku yang pernah mengajarkan aku juga bagaimana harus mengganti ban mobil apabila bon mobil tiba-tiba kempes di tengah jalan tanpa adanya bala bantuan. Inget banget. Itu kira-kira waktu aku masih SMP kelas 8 di Jogja.

Like, was I trapped on a military family or what? It turns out that there is an easier way to grow up.
Sari's mom even did not teach Sari to change the car wheels! Kidding, Mom. I am actually proud that I can change the car wheel instead.  :*

----

Sekarang ke Ibunya Aninda. Ibunya Aninda berbicara banyak mengenai 'wanita' dengan segala kematangan dalam berkehidupan. Terdengar cukup berat. Sudah semestinya, Ibu ini sudah aku nobatkan sebagai pejuang, karena pekerja keras dan pandai mengisi celah.

Poin yang aku ingat adalah pekerjaan istri menyesuaikan dengan pekerjaan suami.

WHAT THE.

Tertegunlah aku sebagai gadis desa yang belajar di kota dan masih memiliki angan serta semangat membara. Untunglah aku bukan tipe mahasiswi "ambisius-ingin-menjadi". Aku tidak membayangkan apabila aku sejatinya di dalam benak yang terdalam memiliki ambisi menjadi presiden atau menjadi astronot! Dapat dipastikan aku sudah kejang mendengar kata-kata Ibunya Aninda ini. Lenyap aku digerogoti angan-angan yang tidak boleh kugapai.

"Kemana suami ditempatkan, disitu istri akan menyesuaikan" beliau melanjutkan. "Namun tidak berarti kamu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kamu juga bisa berkembang dengan segala pengetahuan dan keterampilan yang kau punya. Improvisasi."

---

Keduanya, memiliki nilai mendasar yang sama kuat. Perihal penyerahan dan dedikasi. Sangat jelas benang merah dari itu semua. Suami mana yang tidak ingin memiliki istri yang berbakti kepadanya? Istri mana yang tidak ingin memiliki suami yang sangat mengasihinya? Kesederhanaan yang terlihat sedikit conditional. Berdamailah dengan kenyataan bahwa sekarang usia begini sudah harus mulai bisa mendengar dan memberi pendapat yang selama ini dianggap tabu, yang sering disangkal dengan pernyataan "Ya ampun lulus aja belom!" Dan all of a sudden we're now have graduated from college already. Jeng-jeng.

Baik, mendengar ceramah dua Ibu negara ini aku kemudian pintar-pintar memosisikan diri. Aku harus menghindari ambiguitas wanita masa kini. Well, mungkin aku nanti akan menjadi istri orang, dan mungkin suamiku nanti tidak tinggal di Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia, atau bahkan bukan di Indonesia. Hayo gimana? Gak gimana-gimana. I will remain dynamic. Hahahahaha.

#belummaunikah
#belumsiapditempatkanditempatsuami
#belumadayangngajakjugarum
#baiklah #amannegara

Maret 04, 2014

Letter to Vica

 Here's the photos of cards I sent to my best friend in Leola, USA. I designed the black card, the another one (green card) is made by the super creative NoicePop. You should check it now!

yup, two cards


the christmas tree pop art card, isn't it lovely?
front card
 I ought to admit here: I cried a river when I wrote the letter for her, just because I miss her a lot.
Hope we can meet soon Vica! x

Maret 03, 2014

Strong Dam

I turned out to be uncomfortable with all the questions dedicated to me lately. I feel unintentionally intimidated. Yes, this is just me. There's no wrong with the others. I know it's surely because of my introvert cage in my head. Those kind of uncomfortable thoughts who always haunt me at the moment they start to get to know me further and further with horrrrrible questions. There is always a question while I don't like being questioned because I would not like to even ask them. I prefer to watch, instead, with my all consciousness I would rather to watch and read and try to understand everything by my self. But today I start to realize, their eagerness to know is such a strong dam. And it can be stronger when some motifs push. They just can't wait. 

Why do they long for my lips to tell something they expect me to? They ask, ask again, ask more, never stop asking. I replied, once and more. I answered what I know and I want to. But why after all my hard decision to answer those questions, they innocently showed me disappointment. They wanted more for God's sake! Or else, my answer was not what they wanted to hear. Then buddy, tell me what was your volition? What kind of answer? I don't have two answers and that's all I have. I gave you all I know about my self. I tried to tell you no lies, wholeheartedly. Why you do that to me? Do correct me if I am wrong, but don't urge me to say what I'm not, what I don't, because I will not. Don't do me like that.

See? I seem building a wall inside of me. Wall that has some doors. Some doors that are open, are just open. No matter what time is it, they are just open 24/7, for everyone. But the other doors, those specific doors with all the mounted name-board in front of it, unfortunately can not be available in every knock you do. Is that wrong for having named doors that are not always available to be open in every knock? Forgive me that I have a wall, and I'll forgive you for having a unbelievable curiousness that I called 'strong dam'. I just don't want my own city gets flood. Thank you.