November 24, 2012

Take It Slow


Sweet!
-Wong Fu Production.

November 07, 2012

Something shaping

"Apo pulok, cak jagoan nian, apo pasalnyo dek?" "Yaitu sih kesalahan lo sendiri karenan keingintahuan lo rendah" "Bangsat" "Buat apa ruuum, bikin capek hati" "Lah, kan lo ga salah, wajar kalo lo bete" "Udah jelas kan orangnya begitu" "Bodo, yang penting gue kerjain beres lebih dari yang diharapkan, titik" "Jago mooting internasional dia rum" "Semoga tambah dewasa dan jago memilah prioritas dan hidup seimbangnya Mba Aruum" "Salah gue juga chit pake tanya yg udah-udah" "Jir kepikiran gak bisa gue kalo gak tuntas gini" "Diemin aja, terima aja"

The surrounding people has a big chance to shape you. 
That so-called ability no matter what just work it smoothly.
 Be careful. 
You choose.

Obral Amarah

Pernah menyaksikan fenomena obral amarah? Seru. Si pemarah lantang mengumandangkan amarah pada kawanannya, mendeskripsikan detail musabab kemarahan diakhiri dengan kesimpulan dungu. Tiap pojok tiap regu diadu berpendapat, mencari bibir-bibir yang kemudian menyuarakan setuju. Pemarah mendapat kawanan yang setuju, mencibir satu ketidaksempurnaan. Mereka berbahasa satu, bahasa keputusasaan akan ketidakmampuan. Bahasa yang hanya bisa dijelaskan oleh penerjemah dengki. Bahasa yang tidak punya malu atas iri hati. Bahasa yang tidak dapat dicerna oleh manusia setengah malaikat. Namun para dewa aku yakin mengerti. Bahasa yang ganas, berlomba menghakimi, menarik simpulan terlalu dini. Pemikiran mandiri, tidak mau tahu, yang penting bagi mereka begitu. Candu, apabila bertemu. Marah satu, marah semua. Refleksi pendirian murah hasil obral provokasi. Pendirian yang bergantung pada kemana dengki mengalir. Dan kau sebut itu empati? Makan. Telan. Habiskan santapan bengismu itu. Pantas saja jika demikian, ternyata itu konsumsimu di tiap hari. Diberkatilah tatapan-tatapanamu, serdadu. Semoga kau beruntung dengan gaya hidupmu itu. Masih punya malu kau berkaca dengan wajahmu, bibirmu, hatimu? Menawan. Apabila menurutmu begitu. Aku salut atas keberanianmu menantang hari saat kau ditelan bumi nanti.