Mei 26, 2012

In the middle of final exam.


This kind of thought. Hahahahaha.

Mei 24, 2012

Galaksi Kesadaran



In this daily routine you called life, kerap kali kedamaian terusik kegundahan. Karena sejatinya, kedamaian itu tidak pernah mengusik. Kegundahan yang sukanya mengusik. Lari kemana-mana, liar tidak berarah tanpa kendali. Terkadang, menyerang aspek yang tadinya kita sudah anggap matang dan aman. Bayangkan, betapa kegundahan itu dengan tidak sopannya sangat dapat mengganggu. In the other side, kedamaian itu, sesederhana itu indahnya. Dia tenang dan tidak banyak protes. Mau menerima dan bahkan bisa memberi lebih dari yang diharapkan. Permasalahannya, mau sampai dimana dan kapan kita hidup diiringi kegundahan? Sampai kamu punya stimultan yang tinggi atas kedamaian yang kamu punya itu. Kedamaian itu memang simple, yet not that easy to maintain. Satu-satunya yang bisa mengendalikan ego kamu dalam me-maintain kedamaian dan kegundahan itu, ya, dimensi pikiran dan perasaan kamu sendiri. Di luar itu, hanya sarana lain. Dan lagi-lagi mempan atau tidaknya sarana lain tersebut juga dikendalikan oleh dimensi pikiran dan perasaanmu itu tadi. Baik metode preventive maupun curative, semua formula-nya ada dalam nature diri kamu. Nah sekarang, kunci untuk membuka dimensi pola pikir yang di dalamnya ada kedamaian, kegundahan, keikhlasan, keterpurukan, dan berbagai ke-an yang lainnya, adalah antara lain, kesadaran. Yang memang, ‘kesadaran’ itu sendiri ada dalam kandungan ke-an yang saya maksud sebelumnya. Jadi, kesadaran yang ini seperti galaksi yang memiliki planet bernama ‘kesadaran’. Jelas, galaksi kesadaran lebih luas ruang lingkupnya dan punya idealisme konstitusional lebih saklek dibandingkan dengan planet kesadaran. Galaksi kesadaran itu yang membuat pengadaan sebuah konsep yang hanya kamu dan universe yang ada dalam dirimu yang paham. Selurus atau seberkelok-kelok apapun labirin yang kamu rancang, itu lah pemahamanmu, dirimu, galaksi kesadaranmu. Kalau sudah ada, kini genapi, dengan hati, dan berkolaborasilah dengan alat transportasi jiwamu, yaitu ragamu. Chin up! Jangan heran kalau nantinya konsep itu akan merombak persepsi sehingga melahirkan ekspresi berbeda. Bukan kamu yang salah, mereka juga tidak salah. Mungkin mereka saja yang belum sadar sedang hidup di dimensi galaksi kesadaran yang mana. Yang perlu diingat, berimajilah sebelum tetiba muncul diktator yang mengatasnamakan dirinya “Dewa Pembatas Imaji” di dunia ini. That’s it. 

Hei, masih ada banyak sekali benda langit di galaksi ini. Banyak juga planet yang belum kita bahas, akan hadir selanjutnya, entah kapan, mungkin saat ada meteor yang menyenggol planet tersebut. Seperti kali ini, satu planetku disenggol meteor! Beruntung komposisi planet di galaksiku adalah pencampuran ingredients yang aneh tapi lumayan mujarab untuk menyuburkan tanah dan menghidupkan pohon-pohon kerindangan untuk diriku sendiri. Hahaha. Enough.. I’m starting to be sick of these parables. Hahaha. 

Ciao!