Maret 06, 2014

Lempeng

Seorang ibu dari teman baikku, panggil saja Sari, mengatakan padaku bahwa sebagai anak perempuan kita harus sadar bahwa kodrat kita adalah sebagai wanita yang kelak akan menjadi istri dari seorang suami. Dan tanggung jawab besar sebagai istri adalah untuk mendampingi suami.

Seorang ibu dari teman baikku (lagi), sebut saja Aninda, mengatakan padaku bahwa sebagai anak perempuan nantinya pasti akan ikut bersama suami. Dalam artian, dimana suami bekerja disana istri akan bersamanya. Istri mengikuti, mendampingi.

Terdengar agak mirip, tapi aku memaknainya dengan berbeda.

Ibunya Sari berbicara dengan sangat ringan, tentang cara menanamkan pemahaman kepada Sari bahwa memang "hidup sesuai dengan kodrat" sudah begitu adanya. Hidup tak punya banyak pilihan, tapi tetap di tengah pilihan yang tidak terlalu banyak itu, kamu harus memilih. Apabila kamu telah memilih menjadi istri, maka segala konsekuensi di balik itu harus kamu terima.

"Ya, istri mendampingi suami, lupakan cita-citamu. Lupakan pilihan lain untuk menggapai karir itu. Tugasmu adalah mendukung dan melayani suami. Menyiapkan sarapan di pagi hari, menyiapkan pakaian, peralatan sehari-hari, bersedia menanti suami pulang, menemani makan malam, bertukar pikiran, memberi masukkan, menemani istirahat, segalanya yang membuat suami merasa menjalani hidupnya bersamamu membuatnya semakin mudah."

Pada saat itu aku mendengarkan dengan setengah menganga.

Betapa berbaktinya wanita ini bisa melakukan itu semua, meninggalkan segala cita-citanya, demi suami tercinta. Demi keluarga. Sempat aku berpikir ini adalah dedikasi atau hanyalah justifikasi dari keengganan (nearly kemalasan) seorang wanita untuk menggapai cita-cita?

Aku belum mau menyimpulkan, jadi aku belum bisa menjawab. Aku memilih untuk terus mendengarkan saja Ibunya Sari bercerita tentang wanita.

Sebenarnya aku mendengarkan sambil bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang Ibu, istri dari pejabat kaya hanya tinggal di rumah, tidak memiliki pekerjaan formal, tidak ada kesibukan yang rutin, berpegangan pada kesetiaan hatinya, dan kepercayaan pada suaminya, bertahan sekian puluh tahun mendampingi suami, membesarkan anak, dan masih tetap damai.

Aku masih bertanya-tanya. Aku masih belum menemukan makna dedikasi sepenuh jiwa raga semacam Ibunya Sari ini. Karena contohnya almarhum Ibuku, meskipun melepaskan pekerjaan formalnya demi mengurus keluarga (sesuai permintaan Ayahku), namun beliiau tetap berbisnis ini itu, memiliki kesibukan yang rutin sehingga menurutku hidupnya cukup dinamis. Dan menurutku, itu yang ideal. Tidak terlalu sibuk, ada waktu untuk keluarga, namun tetap bisa earn money for herself. Yah, aku tahu pendapatku sekarang dan mungkin lima tahun lagi akan berbeda. Tapi untuk saat ini, aku masih berpendapat demikian.

Sehingga melihat dan menilai pengakuan dari Ibunya Sari ini cukup membuatku bingung sekaligus tidak heran mengapa Sari, teman baikku itu, tidak "ambi" (re: ambisius) dengan masa depannya. She is the truly definition of "lempeng". The lempeng-est girl on earth, you can say. Dan sekarang, sudah kutemukan jawabannya. Karena Ibunya, Ibunya Sari ini, adalah lempeng. Ibunya tidak menanamkan banyak doktrin mengenai kerja keras menggapai cita pada Sari. Hanyalah ilmu dasar, seperti ilmu kebersihan, perawatan, memasak, dan kewanitaan lainnya.

Aku tertegun, sih. Dibanding dengan Ibuku yang pernah mengajarkan aku juga bagaimana harus mengganti ban mobil apabila bon mobil tiba-tiba kempes di tengah jalan tanpa adanya bala bantuan. Inget banget. Itu kira-kira waktu aku masih SMP kelas 8 di Jogja.

Like, was I trapped on a military family or what? It turns out that there is an easier way to grow up.
Sari's mom even did not teach Sari to change the car wheels! Kidding, Mom. I am actually proud that I can change the car wheel instead.  :*

----

Sekarang ke Ibunya Aninda. Ibunya Aninda berbicara banyak mengenai 'wanita' dengan segala kematangan dalam berkehidupan. Terdengar cukup berat. Sudah semestinya, Ibu ini sudah aku nobatkan sebagai pejuang, karena pekerja keras dan pandai mengisi celah.

Poin yang aku ingat adalah pekerjaan istri menyesuaikan dengan pekerjaan suami.

WHAT THE.

Tertegunlah aku sebagai gadis desa yang belajar di kota dan masih memiliki angan serta semangat membara. Untunglah aku bukan tipe mahasiswi "ambisius-ingin-menjadi". Aku tidak membayangkan apabila aku sejatinya di dalam benak yang terdalam memiliki ambisi menjadi presiden atau menjadi astronot! Dapat dipastikan aku sudah kejang mendengar kata-kata Ibunya Aninda ini. Lenyap aku digerogoti angan-angan yang tidak boleh kugapai.

"Kemana suami ditempatkan, disitu istri akan menyesuaikan" beliau melanjutkan. "Namun tidak berarti kamu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kamu juga bisa berkembang dengan segala pengetahuan dan keterampilan yang kau punya. Improvisasi."

---

Keduanya, memiliki nilai mendasar yang sama kuat. Perihal penyerahan dan dedikasi. Sangat jelas benang merah dari itu semua. Suami mana yang tidak ingin memiliki istri yang berbakti kepadanya? Istri mana yang tidak ingin memiliki suami yang sangat mengasihinya? Kesederhanaan yang terlihat sedikit conditional. Berdamailah dengan kenyataan bahwa sekarang usia begini sudah harus mulai bisa mendengar dan memberi pendapat yang selama ini dianggap tabu, yang sering disangkal dengan pernyataan "Ya ampun lulus aja belom!" Dan all of a sudden we're now have graduated from college already. Jeng-jeng.

Baik, mendengar ceramah dua Ibu negara ini aku kemudian pintar-pintar memosisikan diri. Aku harus menghindari ambiguitas wanita masa kini. Well, mungkin aku nanti akan menjadi istri orang, dan mungkin suamiku nanti tidak tinggal di Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia, atau bahkan bukan di Indonesia. Hayo gimana? Gak gimana-gimana. I will remain dynamic. Hahahahaha.

#belummaunikah
#belumsiapditempatkanditempatsuami
#belumadayangngajakjugarum
#baiklah #amannegara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar