Seperti biasa aku dan dia, kanca susahku, kembali mengunjungi kota. Hari sudah sampai mahgrib, tontonan usai. Diskusi serius pembahasan film Hunger Games tumpah. Tidak seperti aku, dia lebih ketakutan menonton film pembunuhan yang seperti ini. Sedangkan aku santai menikmat dan kadang - kadang saja mengernyitkan alis mataku. Aku lebih seram dengan Paranormal Activity, Insidious II, Conjuring, dst. Rasanya semua adegan yang ada di film tersebut tidak pernah terbayangkan olehku. Disitu ketakutanku berkumpul jadi satu dengan imajinasi-imajinasi liar, saat apa yang tidak kuduga terjadi. Kebalikanku, dia yang anteng dan seakan menikmati sajian bule-bule macho telanjang dada di pantai. Sial. Jadi intinya, sore itu dia lebih ketakutan daripada aku. Yes.
Dia teman cerita yang baik. Mungkin dia lebih cermat pada hal yang 'duniawi' dan 'kata-orang'. Dimana hal tersebut adalah hal - hal yang jarang aku berikan perhatian. Jadi, pertemananku dengan dia menarik karena aku bisa dengar hal yang tidak aku pilih untuk dengar selama ini. Keuntungannya, aku tidak harus meminta untuk cari tau, dia sendiri yang memberi cerita. Dia pencerita. Aku banyak mendengar isu-isu modern dari dia. Dan, kadang aku tertarik, dan kadang bisa tidak sama sekali. Sedangkan dia mengaku, dia suka bercerita denganku karena aku sering membahas hal-hal imajiner. Aku bisa membuat dia berkhayal, katanya. Aku juga tidak mengerti. Bagiku, kata khayal identik dengan luar angkasa. Jadi, apa sebenarnya aku peranakan alien? Mmm.
Kami sering bertukar pikiran, di kampus, kamar, kereta, mikrolet, hampir dimana saja yang memberi kami ruang. Pembahasan kami kadang sangat ringan hampir tidak bermutu, tapi juga kadang bisa seabot kapal pesiar. Saking abotnya kami bisa gila sendiri karena tidak menemukan solusi cerdas. Dan disitulah kami menyadari, topik tersebut keberatan untuk mahasiswi lucu seperti kami.
Sore itu, kami berjalan dari Kuningan City ke arah menuju Stasiun Tebet. Namun kami tergoda untuk mencari stasiun lain. Jadi, setelah menemani dia sholat di masjid-nya Kementrian Hukum dan HAM yang bagus dan megah itu, kami kembali berjalan menyusuri jalan tikus seputar Kuningan. Diantara momen tersebut, aku tersadar kami telah beberapa kali melakukan ritual-jalan-kaki-di-tengah-hiruk-pikuk-penuhnya-Jakarta seperti ini. Kalau ditelusuri lagi, ya saat-saat jam pulang kantor begini. Saat penuh sesaknya Jakarta. Jalan protokol dipenuhi kendaraan yang nafsu ingin kembali secepatnya ke garasi masing-masing. Klakson, polusi, dan suit-suit abang-abang brengsek memang tidak bisa dihindari.
Di setiap perjalanan, ada-ada saja pertanyaan temanku satu ini. Dia sering insecure dengan penampilannya sendiri. Mungkin seribu kali sehari dia menanyai aku dengan: "Caem ga? Rambutnya bagus diiket gini atau diurai?" Padahal asal kau tau saja, kau sesungguhnya lebih cantik daripada yang kamu lihat di cermin tiap hari. Aku hanya berharap dia segera meninggalkan insecurity tersebut. Kadang lelah menanggapinya, tapi dia terlalu baik untuk menghadapi ignorance. Dan kebetulan aku termasuk orang yang suka pada detail, jadi selalu kuladeni pertanyaannya, dengan jujur ku jawab dia lebih cantik kalau begini, begitu. Intinya aku ingin menyampaikan dia sudah cantik apa adanya. Kulit sebening itu, mata sebelok itu, bibir semerahjambu itu, rambut sehitam dan panjang itu, sudahlah. Anak pejabat mana yang tidak mau. Kembali lagi, aku berjalan, dia di belakangku, kadang juga di depanku. Aku suka berjalan di trotoar ibukota. Di trotoar tersebut, aku bisa berjalan semauku. Mau sambil melihat gedung-gedung tinggi, jembatan megah fly over, kerlap-kerlip lampu jalan dan juga hiasan mall. Jakarta, dengan segala kekurangannya, tetap terlihat ganteng apabila ditengok pada malam hari. Apalagi dinikmati di tempat yang lebih tinggi, hingga tak lagi kau dengar bising jalanan. Hmm. Mau. Namun pada saat itu aku berjalan di trotoar, jadi aku masih berjumpa dengan lagi dengan klakson, polusi, dan suit-suit abang-abang brengsek.
Kadang aku ingin sekali terbang ketinggian 50-100m saja di atas permukaan. Lalu terbang dan mendarat di atas gedung pilihanku sendiri. Duduk santai sambil makan sate ayam Sudimara, terus foto-foto pemandangan Jakarta di waktu malam, lalu dipost di Instagram, hehehe. Mau. Tapi pasti kedinginan. Since I can't stand cold weather. Huftinawati.
Nah, kembali ke trotoar. Aku paling sedih kalau perjalananku di trotoar terhambat. Di Jakarta, ada-ada saja ini hambatannya! Seperti:
Trotoar digunakan tempat jualan anti gores handphone, pecel lele, mie ayam, siomay, kalo sate ayam gapapa *self-toyor*


Trotoar digunakan untuk tempat parkir (motor, mobil, becak, bajaj)

Trotoar digunakan untuk tempat sampah
:(
Itu beneran bikin sedih.
Apalagi kalau pas terhambat jalan di trotoar, terus kan jalan di jalur kendaraan akhirnya, terus malah diklaksonin sama pengguna mobil terus dimaki-maki karena jalan di jalur kendaraan. WOEEEY. Trotoarnya dibuat jualan siomay, terus gue harus terbang gitu supaya gak gangguin lo jalan? Nangis aja apa.
Kurang lebih aku sering mengeluhkan hal-hal yang semacam itu ke temanku yang tadi, dan dia mendengarkan dengan baik. Kadang juga ikut mengomentari dengan sabar, melihat temannya satu ini sudah kayak pop-corn yang meletup-letup kalau sudah dihadapkan dengan kejadian putusnya trotoarnya semacam tadi. Itu menyulut emosi banget sih buat aku, karena kayak helloooo..?? Mau marah sama pedagang, dia juga nyalahin pemerintah gak kasih tempat memadai buat pasar terus pake alasan dia dapat ijin dari Pemda. Mau marah sama tukang parkir, dia juga kasih jasa jaga motor orang biar gak dimaling, dan bilang dia juga dapet ijin dari toko-nya. Mau marah sama abang-abang brengsek, dia juga salahin pemerintah gak kasih peluang kerja yang memadai,. Mau marahin pemerintah? Gak ada gunanya. Ada jalan yang lebih masuk di akal lainnya.
*exhale*
Hmm. Sistem. Indonesia needs to repair the system. An improvement.
Ubah Optimalisasi Trotoar! Hapuskan Alih Fungsi Trotoar!
Jadikan Pejalan Kaki Sebagai Raja Trotoar!
Lindungi Hak Asasi Pedagang Sate Ayam di Seluruh Dunia! (lho)
Hidup Trotoar! Hidup Pejalan Kaki!
Salam Jempol Kaki!
Salam Bulu Kaki!
Yeah
P.s: Apakabar skripsi?
Sekian.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar